Medan – Polrestabes Medan diminta untuk mengusut insiden penyerangan di rumah calon Wali Kota Sibolga, M Fadhil Thoib Hutagalung.
Ketua Cahaya Kemenangan Prabowo Sumut Jauli Manalu menyampaikan, aksi premanisme yang kedua kali terjadi di kediaman Fadhil mesti diusut agar tidak kembali berulang
Polrestabes Medan pun diminta untuk benar-benar menangkap pelaku utama bukan aktor lapangan yang berbuat atas perintah.
”Ini bukan iseng. Ini saya duga kuat merupakan rencana yang telah disusun rapi. Boleh tangkap pelaku, tapi ungkap aktor intelektualnya.
Biar terungkap apa motifnya. Kasihan juga kalau hanya keroco yang ditangkap. Dia hanya menjalankan perintah, siapa bosnya. Itulah yang perlu diungkap Kapolrestabes Medan,” kata Jauli, Kamis (17/9/2026).
Jauli Manalu berpandangan, insiden yang dialami Fadhil adalah tindakan direncanakan dengan tujuan melakukan intimidasi.
Jauli menjelaskan Fadhil telah dua kali mengalami insiden serupa. Pertama pada Oktober 2023 saat Fadhil menjadi calon Wakil Wali Kota Sibolga, mobilnya disiram bensin dari luar pagar dan dibakar oleh OTK di kediamannya di kawasan Helvetiah Medan.
Yang terakhir terjadi 11 September 2026 silam. Dalam rekaman CCTV, peristiwa itu terjadi pukul 03.25 WIB.
Dalam video terlihat empat pria misterius berboncengan menggunakan dua sepeda motor merangsek mendekati rumah. Para pelaku kemudian meleparkan bensi dan memercikkan api.
“Bahwa Kejahatan ini dirancang spesifik untuk menyebarkan ketakutan tanpa mengorbankan nyawa dengan menggunakan tangan orang lain.
Tujuannya, bisa jadi sebagai tekanan politik atau psikologis karena aktor intelektual masih memiliki agenda atau pesan spesifik yang ingin dipaksakan kepada Fadhil,” kata Jauli.
Jauli pun menantang agar Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn segara mengungkap peristiwa itu.
Jauli mengatakan, polisi bisa melakukan penyelidikan di sekitar Jalan Merpati, Kecamatan Medan Sunggal, pada rentang pukul 03.00 hingga 04.00 WIB saat pelemparan terjadi.
“Mengidentifikasi nomor ponsel yang aktif dan saling berkomunikasi pada jam tersebut bisa mengarah pada identitas eksekutor. Peristiwa penyerangan pada masa pencalonan juga bisa dicurigai sebagai dasar pengejaran, apalagi jika memang Fadhil mengaku tidak memiliki musuh,” sambung dia.
Jauli merasa polisi dapat segera mungkin melakukan penyelidikan untuk menangkap para pelaku dan membongkar motif penyerangan tersebut.
”Hanya saja, jika memang kepolisian ogah-ogahan mengeluarkan tajinya, maka penelusuran polisi akan buntu pada rekaman CCTV rumah dan perburuan pada eksekutor lapangan yang diprediksi akan menjawab iseng atau alasan nyeleneh lainnya. Jika itu benar-benar terjadi, maka Jauli Manalu meyakini, peristiwa serupa akan terulang kembali di waktu akan datang.
”Sekarang, Kapolres punya taji tidak. Tidak ada yang sulit. Semua serba digital, ada CCTV. Di jalam ada CCTV. Kalau tidak mau capek, mundur saja jadi polisi, berarti taji sudah tumpul.”
Sebelumnya, rumah Fadhil Thoib Hutagalung (31) di Jalan Merpati, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, diduga dilempar oleh orang tidak dikenal (OTK), pada Jumat (11/9) sekitar pukul 03.25 WIB.
Akibat pelemparan batu itu, kaca mobil miliknya pecah. Diduga pelaku berjumlah empat orang mengendarai dua sepeda motor.


















