Negeri Kaya, Mata Uangnya Tak Berdaya

  • Bagikan
banner 468x60

Medan | Melemahnya nilai tukar rupiah hari ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa yang cukup dijawab dengan narasi normatif dan alasan global semata.

Ketika rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat, yang paling merasakan dampaknya bukan para elite ekonomi, melainkan rakyat kecil yang setiap hari dipaksa bertahan di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang semakin mencekik.

Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam, memiliki potensi ekonomi besar, dan memiliki kekuatan demografi yang luar biasa.

Namun sangat ironis ketika di tengah segala kekayaan tersebut, rupiah justru kehilangan daya dan wibawa di hadapan mata uang asing. Kondisi ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja.

Saya menilai pemerintah dan Bank Indonesia gagal membangun ketahanan ekonomi yang kuat dan mandiri. Negara terlalu bergantung pada arus modal asing, terlalu lemah memperkuat sektor produksi nasional, dan tidak serius membangun kedaulatan ekonomi yang berpihak kepada rakyat.

Akibatnya, setiap ada tekanan global, rupiah langsung limbung dan rakyat kembali dijadikan korban utama.Alasan bahwa pelemahan rupiah disebabkan faktor eksternal tidak bisa terus dijadikan tameng untuk menutupi lemahnya pengelolaan ekonomi nasional.

Jika setiap krisis selalu disandarkan pada kondisi global, maka publik berhak mempertanyakan di mana fungsi negara dan apa langkah konkret yang telah dilakukan untuk melindungi nilai rupiah serta menjaga daya beli masyarakat.

Hari ini masyarakat dipaksa menghadapi harga barang yang terus naik, biaya pendidikan semakin mahal, sektor usaha kecil semakin terpukul, dan lapangan pekerjaan semakin sulit.

Sementara di sisi lain, elite kekuasaan justru masih sibuk berbicara soal stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi tanpa benar-benar merasakan tekanan hidup yang dialami rakyat di bawah.

Sebagai aktivis mahasiswa dan bagian dari elemen sosial kontrol, kami melihat kondisi ini sebagai alarm keras atas gagalnya arah pembangunan ekonomi nasional. Negara seolah lebih sibuk menjaga kenyamanan investor dibanding memastikan kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Padahal stabilitas ekonomi sejatinya diukur dari kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan sekadar angka statistik dan laporan pertumbuhan.Bank Indonesia tidak boleh hanya hadir sebagai institusi yang sibuk memberi pernyataan menenangkan pasar.

Otoritas moneter harus mampu menunjukkan keberpihakan nyata terhadap kepentingan rakyat dan memiliki keberanian menjaga martabat rupiah di tengah tekanan ekonomi global.Kami mengingatkan bahwa jika situasi ini terus dibiarkan, maka yang runtuh bukan hanya nilai tukar rupiah, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap negara. Pemerintah harus berhenti menjadikan rakyat sebagai penanggung utama dari setiap kegagalan ekonomi.Sudah saatnya negara hadir dengan keberanian politik dan kebijakan ekonomi yang benar-benar berpihak kepada rakyat, memperkuat produksi nasional, mengurangi ketergantungan impor, menekan kebocoran anggaran, serta memberantas praktik korupsi yang selama ini menjadi penyakit kronis dalam pengelolaan ekonomi bangsa.Rakyat hari ini tidak membutuhkan janji dan pencitraan. Rakyat membutuhkan kepastian hidup. Dan ketika rupiah terus melemah tanpa solusi nyata, maka kritik adalah bentuk keberpihakan terakhir terhadap masa depan bangsa.(AA)

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *