Titik Kumpul Literasi X Himapol Wilayah 2 Gelar Diskusi Buku Tetralogi Pramoedya Ananta Noer

  • Bagikan
banner 468x60

SUMUTKINI.ID,MEDAN-Komunitas Titik Kumpul Literasi bersama Koordinator Wilayah 2 HIMAPOL Indonesia sukses menggelar Diskusi Buku bertajuk “Tetralogi Pram: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca”, Kamis (13/11/2025) di Pendopo Mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara (USU).

Turut hadir Founder Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP), Dimas Oky Nugroho Ph.D, sebagai pemantik diskusi. Dalam paparannya, Dimas Oky Nugroho menyoroti relevansi Blora dan Tetralogi Buru dalam konteks perjuangan dan kesadaran masyarakat saat ini.

Ia menjelaskan bahwa dari karya-karya Pramoedya, khususnya melalui sosok Minke, pembaca diajak untuk memastikan keberdayaan masyarakat dan membangun kesadaran kritis terhadap situasi sosial politik.

“Buku ini membantu kita memahami kehidupan bangsa dalam bentuk roman sejarah atau sastra realis. Ada empat aspek penting yang bisa kita pelajari,” ujar Dimas.

Pertama, kata Dimas, pencarian jati diri Minke sebagai pribumi terpelajar yang peduli pada kondisi bangsanya. Kedua, sejarah kebangkitan bangsa sebagaimana yang tergambar dalam Anak Semua Bangsa.

“Dimana Minke mulai memperjuangkan kepentingan rakyat dan bertemu aktivis perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Walau sang perempuan meninggal, semangat perjuangan Minke tetap hidup dalam gagasan pembebasan,” jelasnya.

Ketiga, kritisisme sebagai kunci mengelola kehidupan bernegara, menunjukkan pentingnya berpikir reflektif di tengah situasi
politik yang kompleks. Keempat, refleksi kekuasaan yang tergambar dalam Rumah Kaca, dimana tokoh narator memantau perjuangan Minke dan merasa cita-citanya belum tercapai.

“Meski kisah berakhir sedih, semangat perjuangan Minke justru menginspirasi gerakan perlawanan di masa depan,” ucapnya.

Koordinator Wilayah 2 HIMAPOL Indonesia, Rasyid, mengatakan diskusi ini bukan hanya membahas isi buku, tetapi juga membangun kesadaran intelektual di kalangan mahasiswa. Menurutnya, nilai-nilai yang diangkat dalam Tetralogi Pram seperti kebebasan berpikir, keadilan sosial, dan tanggung jawab moral masih sangat relevan dengan situasi politik dan sosial hari ini.

“Membaca Pramoedya berarti membaca kembali jati diri bangsa. Kita diajak untuk tidak sekadar mengagumi, tapi juga merefleksikan posisi kita dalam perjuangan itu,” tutup Rasyid.

Co-Founder Titik Kumpul Literasi, Walid Iskandar yang bertindak sebagai moderator menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat membaca dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa.

“Pram tidak hanya menulis kisah, tapi juga menyuarakan perlawanan terhadap kebodohan dan ketidakadilan. Melalui diskusi ini, kami ingin menanamkan kembali semangat intelektual yang berani dan reflektif, terutama di ruang-ruang kampus,” ujar Walid.

Acara berlangsung interaktif, dengan banyak peserta menyoroti relevansi karya Pram terhadap situasi sosial dan politik hari ini. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin Komunitas Titik Kumpul Literasi dalam menghidupkan kembali semangat literasi kritis di lingkungan kampus.

Untuk informasi lebih lanjut, peserta dan publik dapat mengikuti akun Instagram resmi @himapolindo.korwil2 dan @titikkumpul.literasi.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *