Niat Puasa Ramadan: Lafaz, Waktu dan Tata Caranya

  • Bagikan
IST
banner 468x60

SUMUTKINI.ID-Setiap Muslim yang menjalankan puasa wajib menetapkan niat pada malam hari sebelum terbit fajar. Sebab, salah satu syarat utama sahnya puasa Ramadan adalah berniat. Hal ini merujuk pada penjelasan yang dikutip dari laman MUI.or.id.

Ada perbedaan menetapkan niat antara puasa wajib dengan puasa sunnah. Dalam fikih, puasa wajib seperti Ramadan, qadha, dan nazar memiliki aturan niat yang lebih ketat dibanding puasa sunnah.

Puasa wajib harus diniatkan pada malam hari, sedangkan puasa sunnah diperbolehkan berniat pada siang hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.

Dasar ketentuan tersebut merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dan dijadikan landasan utama ulama dalam menetapkan kewajiban niat sebelum fajar.

Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat niat puasa Ramadan harus dilakukan setiap malam. Pendapat ini dijelaskan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyatul Iqna’, yang menegaskan kewajiban memperbarui niat tiap hari karena teks hadis dipahami secara zahir (tekstual).

Sementara itu, Mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda. Dalam kitab Fiqh al-Shiyam karya Yusuf Al-Qaradlawi dijelaskan bahwa niat puasa Ramadan boleh dilakukan sekali pada malam pertama untuk satu bulan penuh, karena puasa Ramadan dipandang sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh.

Meski terdapat perbedaan pendapat, para ulama menganjurkan sikap kehati-hatian dengan menggabungkan keduanya, yakni berniat di awal Ramadan sekaligus tetap memperbarui niat setiap malam. Cara ini dinilai lebih aman agar puasa tetap sah apabila seseorang lupa berniat pada malam tertentu.

Adapun bacaan niat puasa Ramadan yang umum digunakan adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala,” yang berarti niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban Ramadan karena Allah Ta’ala.

Dengan demikian, niat tidak sekadar bacaan, melainkan kesadaran hati untuk menjalankan ibadah puasa. Namun pelafalan niat tetap dianjurkan sebagai bentuk penegasan niat sebelum menjalankan puasa wajib.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *